Desain instruksional adalah
program pengajaran yang dibuat oleh guru secara konvensional, desain
instruksional dikenal sebagai persiapan mengajar guru. Model pengembangan
sistem dan desain instruksional adalah cara dalam mencari pemecahan-pemecahan masalah
instruksioanal yang meliputi kegiatan perencanaan, pengembangan, dan evaluasi
terhadap komponen-komponen insrtukisonal dalam rangka menghasilkan sistem
instruksional yang efektif untuk memperbaiki situasi pengajaran dan pendidikan.
A. PROSES PENGEMBANGAN
INSTRUKSIONAL
Proses
Pengembangan Instruksional dimulai dengan mengidentifikasi masalah, dilanjutkan
dgn mengembangkan strategi dan bahan instruksional, lalu diakhiri dgn
mengevaluasi efektivitas dan efisiennya. Proses evaluasi termasuk kegiatan Revisi. Pengembangan Instruksional terdiri dari :
q
Mengidentifikasi
Masalah
Ø
Identifikasi masalah
Ø
Analisis Latar
Ø
Organisasi Pengelolaan
q
Mengembangkan Strategi
Ø
Identifikasi Tujuan
Ø
Penentuan Metode
Ø
Pembuatan Prototip
q
Mengevaluasi
Effektivitas dan Efisiensi
Ø
Uji Coba Prototip Instruksional
Ø
Analisis Hasil
Ø
Implementasi / Uji Coba Ulang
B. MACAM-MACAM
MODEL PEMBELAJARAN INSTRUKSIONAL
1. Model Briggs
Model yang dikembangkan oleh
Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran dosen atau guru
yang akan bekerja sebagai perancang
instruksional maupun tim pengembangan instruksional yang susunan
anggotanya meliputi dosen, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi,
ahli media, dan perancang instruksional. Langkah-langkah yang harus dilakukan
guru/dosen sebagai perancang kegiatan instruksional adalah melaksanakan
pemilihan media, merencanakan KBM, melaksanakan KBM dan melakukan evaluasi. Berkaitan
dengan evaluasi tersebut, guru/dosen melakukan pemantauan pelaksanaan, uji
coba, dan revisi soal serta melakukan evaluasi sumatif.
2. Model Bela H. Banathy
Banathy mengembangkan rencana
pembelajaran yang dimulai dari proses merumuskan tujuan. Dari hasil rumusan
tujuan tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis kegiatan belajar dan
mengembangkan tes. Hasil analisis terhadap kegiatan belajar kemudian digunakan
untuk mendesain sistem instruksional. Dari hasil desain sistem instruksional
dan pengembangan tes, kemudian dilaksanakan kegiatan evaluasi pembelajaran.
Hasil dari evaluasi pembelajaran digunakan untuk kegiatan perbaikan.
Keseluruhan proses tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik dalam
merumuskan tujuan.
3. Model PPSI
Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI) digunakan sebagai metode penyampaian dalam rangka
kurikulum 1975 untuk SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah-sekolah
kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan
yang jelas sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang
berorientasi pada tujuan.
Langkah-langkah pengembangan dan
pelaksanaan dalam model PPSI mirip dengan langkah-langkah pengembangan dalam
model Banathy. Ada 5 langkah pokok dalam PPSI, yaitu:
a. Merumuskan tujuan instruksional, dalam hal ini TIK
(Tujuan Instruksional Khusus)
b. Menyusun alat evaluasi
c. Menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran
d. Merencanakan program kegiatan
e. Melaksanakan program
4. Model Kemp
Model pengembangan instruksional
menurut Kemp (1977), atau yang disebut desain instruksional, terdiri dari 8
langkah, yaitu:
a. Menentukan tujuan instruksional umum (TIU).
b. Membuat analisis tentang karakteristik siswa.
c. Menentukan tujuan instruksional secara spesifik,
operasional dan terukur.
d. Menentukan materi atau bahan pelajaran yang sesuai dengan
TIK.
e. Menetapkan penjagaan awal (pre-assessment).
f. Menentukan strategi belajar-mengajar yang sesuai.
g. Mengkoordinasikan sarana penunjang yang diperlukan.
h. Mengadakan evaluasi
5. Model Gerlach dan Ely
Model yang dikembangkan oleh
Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar.
Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan 10 unsur, di
antaranya:
a. Merumuskan tujuan.
b. Menentukan isi materi.
c. Menurut kemampuan awal.
d. Menentukan teknik dan strategi.
e. Pengelompokan belajar.
f. Menentukan pembagian waktu.
g. Menentukan ruang.
h. Memilih media instruksional yang sesuai.
i. Mengevaluasi hasil belajar.
j. Menganalisis umpan balik.
6. Model IDI (Instructional Development Institute)
Model ini dikembangkan oleh
University Consortium for Instructional Development and Technology (UCIDT) yang
terdiri dari University of Southern California (USC), International University
di San Diego, Michigan State University (MSU), Syracuse University, dan Indiana
University.
Pengembangan instruksional model
IDI, sebagaimana model-model yang lain, menerapkan prinsip-prinsip pendekatan
sistem. Ada 3 tahapan besar pendekatan sistem, yaitu:
a. Penentuan (define)
b. Pengembangan (develop)
c. Evaluasi (evaluate)
Ketiga tahapan tersebut
dihubungkan dengan umpan balik (feedback) untuk mengadakan revisi.
C. PRINSIP-PRINSIP
MODEL INSTRUKSIONAL
•
Pengulangan
respons yang menyenangkan
•
Tujuan
yang jelas (kondisi lingkungan, metode dan media)
•
Pemberian penguatan berupa
umpan balik
•
Pemberian
contoh dari kehidupan sehari-hari
•
Perhatian
dan ketekunan
•
Pemecahan
materi menjadi bagian kecil
•
Penggunaan
model
•
Pemecahan
perilaku umum menjadi perilaku khusus
•
Pemberian
informasi kemajuan belajar
•
Kecepatan
belajar berbeda
•
Mahir mengorganisir
sendiri kegiatan belajarnya
D. PROSES
MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN INSTRUKSIONAL
·
Menentukan
kesenjangan dalam pembelajaran
·
Mengidentifikasi
bentuk kegiatan instruksional yang tepat
·
Menentukan
populasi sasaran
E. TUJUAN
DAN FUNGSI MODEL PEMBELAJARAN
Pada umumnya setiap kegiatan
memiliki tujuan dan fungsi, demikian pula pengembangan instruksional ini.
Sesuai definisi dari pengembangan instruksional, tujuan utama pengembangan instruksional adalah untuk menghasilkan
sistem instruksional yang efektif dalam rangka perbaikan pengajaran dan
pendidikan.
Secara khusus tujuan pengembangan instruksional
adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengidentifikasi masalah-masalah instruksional dan mengorganisasi
alat pemecahan masalah tersebut.
b. Untuk menghasilkan stretegi belaJar mengajar yang
efektif, dalam rangka perbaikan pengajaran dan pendidikan.
c. Untuk menghasilkan perencanaan instruksional yang efektif
dalam rangka perbaikan pengasjaran dan pendidikan
d. Untuk
menghasilkan evaluasi belajar-mengajar yang efektif dalam rangka
perbaikan pengajaran dan pendidikan
e. Untuk mengidentifikasi kebutuhan dan karakteristik
peserta didik.
f. Untuk mengidentifikasi alat dan media yang cocok untuk
sesuatu tujuan instruksional tertentu dalam proses belajar-mengajar.
g. Untuk menentukan dan mengidentifikasi materi pengajaran yang cocok,
agar belajar-mengajar dapat efektif.
Sedangkan fungsi dari pengembangan instruksional adalah:
1. Sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses
belajar-mengajar, dalam perbaikan situasi pengajaran dan pendidikan.
2. Sebagai pedoman guru dalam mengambil keputusan
instrusional, yang meliputi:
a. Mengidentifikasi kebutuhan dan karakteristik perserta
didik.
b. Menentukan tujuan instruksional.
c. Menentukan strategi belajar-mengajar.
d. Menentukan materi pelajaran
e. Menentukan media dan alat peraga
f. Menentukan evaluasi pengajaran dan lain-lain
3. Sebagai alat pengontrol/evaluasi, kesesuain antara
perencanaan instruksional dengan pelkasanaan belajar-mengajar
4. Sebagai
balikan/feed back bagi guru tentang keberhasilan pelaksanaan belajar-mengajar
dalam rangka melakukan perbaikan situasi pengajaran dan pendidikan.
Dalam
proses identifikasi (point D), disebutkan ada 3 hal yang menjadi pertimbangan
untuk mengidentifikasi kebutuhan model instruksional. Menurut anda, dengan
kondisi di Indonesia, apakah ada pertimbangan lain dalam identifikasi kebutuhan
instruksional tersebut? Berikan penjelasan anda!


menurut saya dengan memperhatikan kondisi di indonesia langkah yang cocok dalam mengimplementasikan desain instruksional yaitu yang pertama Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional. mengidentifikasi kebutuhan instruksional sebenarnya dilakukan pada tingkat penyusunan Kurikulum. lalu merumuskan tujuan instruksional secara umum, melakukan analisis instruksional yang akan dicapai, kita juga perlu mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik awal peserta didik setelah itu barulah disusun strategi yang pas dalam mengimplementasikan desain instruksionaldan terakhir kita bisa melakukan evaluasi apakah desain instruksional sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
ReplyDeleteproses mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah (1) menentukan kesenjangan dalam pembelajaran (2) Mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang tepat (3)Menentukan populasi sasaran. selain itu menurut saya pertimbangan lain dalam identifikasi kebutuhan instruksional adalah karakteristik peserta didik. dengan kita mengetahui karakter peserta didik,kita dapat mengetahui apa-apa saja kebutuhan instruksional yang dibutuhkan.
ReplyDeleteAda 3 pertimbangan yaitu:
ReplyDelete1)Menentukan kesenjangan dalam pembelajaran
2)Mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang tepat
3)Menentukan populasi sasaran
Ketiga pertimbangan ini sdh sesuai dengan kebutuhan instruksional.
menurut pendapat saya ke tiga pertimbangan untuk mengidentifikasi kebutuhan model instruksional sdh sesuai, bisa kita lihat yang tertera diatas dimana terdapat keterkaitan antara 1 dan yang lainnya. yang bertujuan untuk membuat atau merancang suatu sistem instruksional. (1) Menentukan kesenjangan dalam pembelajaran, dimana kita sebagai pembuat sistem harus memahami apa saja kendala yang di temukan pada suatu kelas/pembelajaran. misalkan kendala buku, dll. (2) Mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang tepat, dengan kendala yang kita temukan tadi kemudian kita identifikasi instruksi apa yang ingin kita berikan kepada siswa,misalnya kita menggunakkan instruksi study literatur yang bisa di dapatkan dari artikel terkait. (3) Menentukan populasi sasaran, untuk memudahkan siswa dalam menjalankan instruksi tersebut maka kita harus memperhatikan siswa, sebaiknya kita membuat kelomok dimana kita membagi beberapa siswa untuk membahas bersama-sama/ mencari literatur pendukung untuk proses pembelajaran. nah ke 3 hal diatas menurut saya sudah pas dan tidak perlu ditambahkan lagi.
ReplyDeleteMenurut saya 3 hal tersebut sudah cukup untuk Mengidentifikasi kebutuhan instruksional antara lain : a) menentukan kesenjangan penampilan siswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan pada masa lalu; b) mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang paling tepat; c) menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan instrusional tersebut, karena dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan instruksional tersebut akan diperoleh jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa.
ReplyDeletemenurut saya dari ketiga 1. Menentukan kesenjangan dalam pembelajaran, dalam hal kemampuan siswa dalam belajar. karena kita ketahui tidak semua siswa yang dapat menangkat pembelajaran dengan cepat maka guru perlu memilih model yang dapat mempertimbangkan kesenjangan tersebut.
ReplyDelete2. Mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang tepat, dari perbedaan kempuan siswa maka guru perlu memilih model yang sesuai. 3. Menentukan populasi sasaran, jika kita ingin memilih model pembelajaran maka kita harus memikirkan keefektifan pembelajaran tersebut dan dari pertimbangan jumlah siswa. jadi dari ketigal tersebua yang dipertimbangkan utuk mengidentifikasi kebutuhan model instruk sional ini menurut sudah cukup. tetapi jika dalam memilih sebuah model pembelajaran maka kita tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang ada dalam merancang sebuah model pembelajaran tersebut, dan menurut saya perlujuga kita mempertimbangkan sarana dan prasarananya.