Rancangan Pembelajaran Pendidikan Abad 21

Perkembangan teknologi dan sosial saat ini menuntut perubahan praktik pendidikan. Guru dan sekolah bukan lagi sumber pengetahuan siswa. Sebaliknya, peran utamanya adalah membekali siswa dengan literasi baru, kompetensi teknologi informasi, dan konsep disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini membutuhkan perubahan terhadap praktik yang berpusat pada siswa. Dalam konteks seperti itu, guru adalah perancang pembelajaran; Oleh karena itu, perencanaan pelajaran diganti dengan konsep 'desain pembelajaran'. Makalah ini memperkenalkan model desain pembelajaran RASE (Resources-Activity-Support-Evaluation) yang dikembangkan sebagai kerangka kerja untuk membantu guru merancang modul pembelajaran. Inti dari RASE adalah penekanan pada disain aktivitas dimana siswa terlibat dalam penggunaan sumber daya dan dalam produksi artefak dengan demonstrasi pembelajaran. Makalah ini juga menekankan pentingnya 'model konseptual' sebagai jenis sumber multimedia, multimedia khusus, dan perannya dalam membantu pembelajaran dan penerapan konsep, berlawanan dengan model 'transfer informasi'. Model ini merupakan kerangka efektif untuk penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan.
Model Pedagogik RASE
Model rancangan pembelajaran RASE dapat dilihat dari dua perspektif:
1.    pembelajaran instruksional; model ini membantu guru dalam mengembangkan pendekatan yang berpusat pada siswa serta integrasi teknologi pendidikan.
2.    pembelajaran; model ini mendukung siswa untuk belajar konten disipliner dan mengembangkan literasi baru.
Model ini dibangun berdasarkan karya dan konsep teoretis yang dijelaskan di bawah ini :
Lingkungan belajar konstruktivis (Jonassen, 1999). Dalam pandangan ini, pembelajaran harus diatur seputar kegiatan dan terjadi di lingkungan yang mendukung konstruksi pengetahuan, berlawanan dengan transmisi pengetahuan. Pengetahuan konstruksi adalah proses dimana siswa secara individu membangun pemahaman mereka tentang isi kurikulum berdasarkan eksplorasi, interaksi sosial, pengujian pemahaman dan pertimbangan berbagai perspektif.
Pemecahan masalah (Jonassen, 2000). Bagi Jonassen, pembelajaran paling efektif bila terjadi dalam konteks aktivitas yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah terstruktur, otentik, kompleks dan dinamis. Jenis masalah ini berbeda secara signifikan dari masalah logis dan terstruktur dengan baik dengan satu solusi tunggal. Jenis masalah ini meliputi dilema, studi kasus, pengambilan keputusan strategis dan disain, yang kesemuanya membutuhkan peserta didik untuk terlibat dalam pemikiran mendalam, pemeriksaan berbagai kemungkinan, penyebaran beberapa perspektif teoretis, penggunaan alat, penciptaan artefak, dan eksplorasi solusi yang memungkinkan. Siswa belajar memecahkan masalah yang kompleks daripada dengan menyerap peraturan dan prosedur siap pakai.
Pelibatan pembelajaran (Dwyer et al., 1985-1998). Dwyer, Ringstaff dan Sandholtz melakukan penelitian longitudinal untuk menyelidiki adopsi teknologi Apple yang paling efektif di lingkungan belajar yang berpusat pada siswa (yaitu, Apple Classroom of Tomorrow). Para ilmuwan ini berpendapat bahwa teknologi harus berfungsi sebagai alat untuk belajar, yang mendukung keterlibatan dalam kegiatan, kolaborasi dan pembelajaran yang mendalam.
Problem-based learning (PBL) (Savery & Duffy, 1995). Savery dan Duffy mengusulkan PBL sebagai model perancangan yang optimal untuk pembelajaran yang berpusat pada siswa. Serupa dengan hal di atas, PBL membangun filosofi konstruktivis dan berpendapat bahwa pembelajaran adalah proses konstruksi pengetahuan dan konstruksi bersama sosial. Salah satu fitur PBL adalah bahwa siswa secara aktif mengerjakan kegiatan yang otentik terhadap lingkungan di mana mereka terbiasa secara alami, yaitu siswa membangun pengetahuan dalam konteks yang mengumpulkan kembali pengetahuan yang mereka gunakan. Kreativitas, pemikiran kritis, metakognisi, negosiasi sosial, dan kolaborasi semuanya dianggap sebagai komponen penting dari proses PBL.
Lingkungan yang kaya untuk pembelajaran aktif (Grabinger & Dunlap, 1997). Dalam  pendekatan ini, perhatian diberikan pada konteks lingkungan di mana PBL terjadi, dengan mempertimbangkan aspek komponen dan kompleksitas lebih lanjut yang memerlukan kegiatan semacam itu. Secara khusus, penekanan ditempatkan pada agar siswa lebih bertanggung jawab, bersedia memberikan inisiatif, reflektif dan kolaboratif dalam konteks pembelajaran yang dinamis, otentik dan generatif. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya pengembangan keterampilan belajar sepanjang hayat.
Lingkungan pembelajaran berbasis teknologi dan perubahan konseptual (Vosniadou et al., 1995). Dalam pandangan ini, peran sentral teknologi adalah untuk mendukung perubahan konseptual dan konsep pembelajaran siswa daripada transfer pengetahuan sederhana. Oleh karena itu, instruksi harus dirancang untuk memperbaiki kesalahpahaman semacam itu.
Lingkungan belajar interaktif (Harper & Hedberg, 1997; Oliver, 1999). Untuk melayani kompleksitas yang dibutuhkan untuk belajar, Oliver mengusulkan bahwa modul pembelajaran harus berisi sumber daya, tugas dan dukungan. Agar pembelajaran penuh berlangsung, sebuah tugas harus melibatkan siswa untuk memanfaatkan sumber daya khusus tujuan. Peran guru adalah mendukung pembelajaran. Harper dan Hedberg sangat menekankan filosofi konstruktivis, dan berpendapat bahwa teknologi itu sendiri harus menyediakan lingkungan di mana peserta didik dapat berinteraksi dengan alat dan satu sama lain.
Membangun pengetahuan kolaboratif (Bereiter & Scardamalia, di media cetak). Membangun pengetahuan adalah konstruksi teoritis yang dikembangkan oleh Bereiter dan Scardamalia untuk memberikan interpretasi mengenai apa yang dibutuhkan dalam konteks kegiatan belajar kolaboratif. Pengetahuan pribadi dipandang sebagai fenomena internal yang tidak dapat diobservasi dan satu-satunya cara untuk mendukung pembelajaran dan memahami apa yang sedang terjadi adalah menangani apa yang disebut pengetahuan publik (yang mewakili apa yang oleh komunitas pelajar tahu). Pengetahuan publik ini tersedia bagi siswa untuk dikerjakan, dikembangkan dan dimodifikasi melalui wacana, negosiasi, dan sintesis gagasan kolektif.
Situasi belajar (Brown et al, 1989). Brown dan rekannya membangun perspektif Teori Aktivitas untuk menekankan peran sentral suatu kegiatan dalam pembelajaran. Suatu aktivitas dimana pengetahuan konseptual dikembangkan dan digunakan. Dikatakan bahwa situasi ini menghasilkan pembelajaran dan kognisi. Dengan demikian, aktivitas, alat dan pembelajaran tidak boleh dianggap terpisah. Belajar adalah proses enkulturasi dimana siswa terbiasa dengan penggunaan alat kognitif dalam konteks bekerja pada aktivitas otentik.
Pembelajaran berbasis inquiry didukung oleh teknologib Pendekatan ini meningkatkan pentingnya aktivitas belajar sebagai hal yang penting untuk intervensi pendidikan yang efektif. Belajar dimulai dengan penyelidikan atau masalah (didukung dengan presentasi multimedia) yang dipresentasikan kepada siswa dengan cara yang menarik. Para siswa kemudian ditugaskan ke sebuah tugas, dilengkapi dengan template untuk membantu menyelesaikan tugas tersebut, diarahkan ke sumber daya berbasis Web dan sumber daya lainnya untuk membantu mereka dan alat kolaborasi seperti platform diskusi. Sebagai model desain, pendekatan ini membuat langkah signifikan dalam mengarahkan guru untuk beralih dari penggunaan teknologi tradisional yang berbasis konten dan berbasis guru.

Skenario berikut, yang dijelaskan dari penelitian sebelumnya, menggambarkan bagaimana model pembelajaran model konseptual dapat mendukung pembelajaran sains:
(1) Observasi - Model konseptual dapat mendukung siswa untuk membuat hubungan antara dunia nyata dan sifat representasi sebuah konsep. Hal ini dapat dirancang agar peserta didik dapat mengenali properti dari lingkungan nyata dalam antarmuka model konseptual, dan juga sebaliknya.
(2) Penggunaan analitis - Model konseptual akan memungkinkan siswa mengimpor data dari lingkungan sebenarnya dan eksperimen untuk pemrosesan analitis (mis., Kalkulator tujuan khusus). Hasil interaksi dapat ditampilkan dalam berbagai format seperti angka, grafik, audio, pernyataan lisan / tertulis, representasi bergambar, dan animasi.
(3) Eksperimentasi - Model konseptual akan memungkinkan peserta didik untuk memanipulasi parameter dan sifat, dan amati perubahan yang diakibatkan oleh manipulasi tersebut. Fitur desain model konseptual memungkinkan generalisasi yang muncul untuk diuji.
(4) Berpikir - Model konseptual mungkin mencakup fitur yang memulai dan mendukung pemikiran ilmiah. Sehubungan dengan konsep sains, hal ini dapat dicapai dengan mengintegrasikan hal yang menarik perhatian dan memancing keingintahuan.
Kegiatan merupakan komponen penting untuk pencapaian hasil belajar secara penuh. Kegiatan memberi siswa pengalaman dimana pembelajaran terjadi dalam konteks pemahaman yang muncul, menguji gagasan, menggeneralisasi dan menerapkan pengetahuan. Berikut adalah dua karakteristik utama dari aktivitas yang efektif:
(1) Aktivitas harus 'berpusat pada siswa':
       Ini berfokus pada apa yang akan dilakukan siswa untuk belajar, dan bukan pada apa yang akan diingat siswa
       Sumber daya adalah alat di tangan siswa,
       Guru adalah fasilitator yang berpartisipasi dalam proses,
       Siswa menghasilkan artefak yang menunjukkan kemajuan belajar mereka,
       Siswa belajar tentang prosesnya,
       Siswa mengembangkan literasi baru.
(2) Aktivitas harus 'otentik':
       Ini berisi skenario kehidupan nyata dan masalah terstruktur,
       Ini menyusun kembali praktik profesional,
       Menggunakan alat yang spesifik untuk praktik profesional,
       Ini menghasilkan artefak yang menunjukkan kompetensi profesional, tidak hanya pengetahuan.
Berikut ini adalah contoh aktivitas apa yang mungkin terjadi:
1.    Proyek desain (mis., Merancang eksperimen untuk menguji hipotesis ilmiah),
2.    Studi kasus (mis, seorang ilmuwan mengidentifikasi keteraturan fisik baru),
3.    Tugas pemecahan masalah pemecahan masalah (mis, meminimalkan gesekanpada ski)
4.    Mengembangkan film dokumenter mengenai isu minat tertentu (mis, pro dan kontra)
5.    Poster untuk mempromosikan isu ilmiah yang kontroversial (mis, energi Nuklir),
6.    Perencanaan hari sains di sekolah Anda,
7.    Mengembangkan perangkat lunak untuk mengendalikan transfer daya mekanik,
8.    Peran-bermain (mis, membela eksperimen sains dengan hewan kecil) .
Hasil sebuah kegiatan bisa menjadi konseptual (misalnya, sebuah gagasan atau konsep yang disajikan dalam laporan tertulis), sebuah artefak keras (misalnya, model sirkuit listrik), atau artefak lembut (misalnya komputer berbasis penciptaan). Artifak yang dihasilkan harus dievaluasi dengan cara-cara agar siswa dapat merefleksikan umpan balik dan melakukan tindakan lebih jauh terhadap pencapaian hasil pembelajaran yang lebih koheren.
Tujuan dukungan adalah untuk memberi para siswa perancah penting sambil memungkinkan pengembangan keterampilan belajar dan kemandirian. Bagi guru, satu tujuan adalah mengurangi redundansi dan beban kerja. Dukungan dapat mengantisipasi kesulitan siswa, seperti memahami aktivitas, menggunakan alat atau bekerja dalam kelompok. Dukungan dapat berlangsung di kelas maupun online seperti melalui forum, Wikis, Blogs dan sebagainya.
Dukungan juga bisa dilihat sebagai antisipasi kebutuhan siswa. Bergantung pada kursus, struktur dukungan proaktif seperti FAQ dapat direncanakan dan dilaksanakan sesuai kebutuhan tersebut. Tujuan dukungan antisipatif adalah untuk memastikan siswa memiliki akses ke sumber daya saat mereka membutuhkan pertolongan, daripada bergantung pada meminta bantuan oleh guru. Berikut adalah beberapa strategi spesifik:
1.    Membangun badan sumber dan materi yang membentuk FAQ Page,
2.    Buat Forum "Bagaimana Saya?" Atau "Bantu Saya"
3.    Buat Glosarium istilah yang berhubungan dengan kursus,
4.    Gunakan daftar periksa dan rubrik kegiatan,
5.    Gunakan platform jejaring sosial lainnya dan alat sinkron seperti chat dan Skype.
Secara keseluruhan, dukungan tersebut harus bertujuan mengarahkan siswa untuk menjadi peserta didik yang lebih mandiri. Misalnya, sebelum siswa dapat meminta bantuan dari guru, mereka harus terlebih dahulu bertanya kepada teman sekelas mereka melalui salah satu Forum dan / atau mencari solusi untuk masalah mereka di Internet. Dengan cara ini, siswa diharapkan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka dan dapat mendukung siswa lain.
Evaluasi pembelajaran siswa selama semester merupakan bagian penting dari pengalaman belajar yang berpusat pada siswa. Evaluasi perlu dilakukan secara formatif agar siswa dapat terus meningkatkan pembelajaran mereka. Suatu kegiatan harus mengharuskan siswa untuk mengerjakan tugas, dan mengembangkan dan memproduksi artefak yang membuktikan pembelajaran mereka. Rubrik dapat diberikan untuk memungkinkan siswa melakukan evaluasi diri juga. Selain itu, evaluasi juga bisa dilakukan oleh rekan sejawat. Berikut adalah beberapa poin mengapa evaluasi penting bagi pembelajaran siswa:
1.    Menawarkan umpan balik tentang pekerjaan dan mengidentifikasi di mana siswa berada dalam pembelajaran mereka,
2.    Menawarkan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki pekerjaan mereka,
3.    Memungkinkan siswa untuk menjadi pelajar yang lebih efektif dan termotivasi,
4.    Membantu siswa menjadi lebih mandiri dan self-directed peserta didik.
Kumpulan rekomendasi berikut ini mungkin berguna bagi guru untuk mengembangkan unit pembelajaran mereka berdasarkan model Desain Pembelajaran RASIONAL. Sebelum mulai membangun unit pembelajaran, guru perlu:
1.    Pastikan hasil belajar kursus yang spesifik sesuai dengan hasil pembelajaran program secara keseluruhan,
2.    Mengidentifikasi unit pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai hasil belajar,
3.    Align penilaian, unit belajar dan hasil belajar.
Selanjutnya, kita perlu memberikan Sumberdaya seperti:
1.         Catatan, artikel dan buku,
2.         Presentasi, demonstrasi dan rekaman / ceramah nyata,
3.         Materi interaktif seperti model konseptual dan bentuk objek belajar lainnya,
4.         Video,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

RASE adalah sebuah desain pengembangan pembelajaran dengan penggunaan media. Dalam RASE siswa dituntut aktif mencari pengetahuan dari berbagai sumber. Bagaimana jika dalam pelaksaan pembelajaran, terdapat siswa yang tidak memiliki antusias dalam mencari sumber pembelajaran? Jika demikian Apakah RASE tersebut gagal dalam penerapan/tidak dapat diberlakukan?

6 comments:

  1. Menurut saya Model Desain Pembelajaran Rase mengembangkan pembelajaran berdasarkan pada dua perspektif: (1) instruksional dan (2) pembelajaran. Dari perspektif instruksional, model ini akan membantu guru dalam mengembangkan pendekatan yang berpusat pada siswa serta berbasis teknologi pendidikan. Dari perspektif pembelajaran, model ini mendukung siswa untuk belajar konten disiplin dan mengembangkan literasi baru. Oleh karena itu, jika seandainya terjadi kasus "siswa tidak memiliki antusias dalam mencari sumber belajar walaupun dengan integrasi teknologi", maka kita perlu menelaah kembali rancangan/desain pembelajaran model rase yang kita kembangkan apakah tepat atau masih ada yang perlu diperbaiki atau dikembangkan lagi. Contohnya, jika seandainya ditemukan penyebab anak tidak antusias dalam mencari sumber pembelajaran dikarenakan keterbatasan kemampuan literasinya, maka guru dapat memberikan pemahaman mengenai pentingnya mencari sumber belajar sebagaiupaya peningkatan literasi, dan pengaruh peningkatan literasi bagi hasil pembelajarannya. Dengan keahlian guru berkomunikasi, membimbing, dan berkolaborasi dengan siswa, diharapkan bisa membantu meningkatkan motivasi siswa dalam mencari sumber belajar.

    Model desain pembelajaran RASE dapat dikatakan berhasil atau gagal dalam penerapannya tergantung pada hasil evaluasi modelnya diakhir pembelajaran, apakah telah mencapai target/tujuan pembelajaran atau belum. Jika telah mencapai target berarti penerapannya berhasil namun belum optimal karena masih ada siswa yang belum antusias mencari sumber belajar, sehingga perlu ditinjau kembali.

    ReplyDelete
  2. konsep Model Desain Pembelajaran Rase disusun untuk mengembangkan pembelajaran berdasarkan pada dua perspektif: (1) instruksional dan (2) pembelajaran. Dari perspektif instruksional, model ini akan membantu guru dalam mengembangkan pendekatan yang berpusat pada siswa serta berbasis teknologi pendidikan. Dari perspektif pembelajaran, model ini mendukung siswa untuk belajar konten disiplin dan mengembangkan literasi baru. Dalam model desain RASE siswa di tuntut aktif dalam pembelajaran, salah satunya mencari sumber-sumber lain atau literasi dari buku lain guna menemukan dan memahami materi sebelum pelajaran. Jika terjadi kasus seperti diatas maka kita sebagai pendidik harus bisa membuat siswa antusias dalam mengikuti pelajaran dan mencari sumber belajar, salah satu cara yang bisa kita lakukan yaitu dengan membuat pembelajaran berbasis online atau web misalnya. Jadi siswa harus mencari sumber dari buku-buku lain untuk di tulis di web atau blog mereka masing-masing.Kemudian mengenai berhasil atau tidaknya kita bisa lihat dari hasil evaluasinya.

    ReplyDelete
  3. jika terjadi kasus seperti itu , maka sebagai seorang pendidik harus bisa memotivasi siswanya untuk mau belajar aktif, salah satu yang dilakukan yaitu mencari sumber belajar bisa dari internet, karena zaman sekarang sudah penuh dengan yang namanya teknologi. guru juga bisa mengubah gaya belajar siswanya contohnya guru sebagai pendidik profesional dituntut lebih kreatif menggunakan Teknologi dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Guru dapat menggunakan jejaring sosial misalkan facebook, untuk mengunggah dan berdiskusi dengan anak didiknya.jadi, hal-hal tersebut bisa membuat siswanya antusias dalam pembelajaran.

    Model desain pembelajaran RASE dapat dikatakan berhasil atau gagal dalam penerapannya tergantung pada hasil evaluasi modelnya , apakah telah mencapai target/tujuan pembelajaran atau belum.

    ReplyDelete
  4. Menurut saya siswa yg tidak antusias dlm belajar karena rendahnya motivasi belajar. Tugas guru meningkatkan motivasi belajar dg berbagai cara spt mengubah suasana belajar jd menyenangkan, memberikan instruksi yg jelas dan membuat siswa menemukan motivasi dari dlm dirinya. Berhasil atau gagal model RASE dlm pembelajaran dilihat dari hasil evaluasi. Evaluasi perlu dilakukan thd aktivitas belajar dan hsl belajar siswa. Jika hasil evaluasi menunjukkan aktivitas belajar dan hasil belajar rendah maka model RASE dianggap gagal dan perlu tindakan refleksi.

    ReplyDelete
  5. berhasil atau tidaknya model RASE dapat kita lihat dari hasil belajar atau evaluasi. jika tujuan pembelajaran tidak di dapatkan,namun jika tujuan dapat tercapai artinya model RASE dikatakan berhasil. siswa yang tidak antusias dalam belajar dapat disebabkan beberapa faktor seperti salah satunya kurangnya motivasi dan kurang menariknya pembelajaran yang di sampaikan. jika sebagai pendidik dapat memberika motivasi ke pada siswa,maka siswa akan antusia dalam belajar. pembelajaran juga harus di sampaikan semenarik mungkin sehingga siswa akan penasaran dan tertarik terhadap materi pelajaran tersebut dan pada akhirnya siswa akan antusias dalam mencari sumber pembelajaran terkait dengan materi tersebut.

    ReplyDelete
  6. Bagaimana jika dalam pelaksaan pembelajaran, terdapat siswa yang tidak memiliki antusias dalam mencari sumber pembelajaran? kesalahan yang terjadi di sini adalah minat dan motivasi belajar. jadi kita sebagai seorang pendidik harus mampu meningkatkan minat dan motivasinya terlebih dahulu, kita dekati siswa kita yang bermasalah kemudian kita bertanya kenapa mereka malas tidak antusias dll. kemudian kita beri pengarahan degan tidk memarahiny, dan kemudian siswa mulai berminat dan termotifasi untuk mencari materinya.
    Apakah RASE tersebut gagal dalam penerapan/tidak dapat diberlakukan? gagal atau tidaknya proses belajar RASE bukan di lhat dari antusias siswa tetapi kita dapat lihat di hasil belajar atau evaluasi.

    ReplyDelete

 

Twitter Updates