Landasan Sosial Kurikulum

Landasan sosial budaya merupakan asumsi – asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antropologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Karakteristik sosial budaya dimana siswa hidup berimplikasi pada program pendidikan yang akan dikembangkan.
Kebudayaan bukan hanya berupa material belaka, melainkan juga berupa sikap mental, cara berpikir dan kebiasaan hidup. Kebudayaan mencakup berbagai dimensi, diantaranya keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, dan rekreasi. Semua dimensi tersebut hendaknya dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum
Faktor kebudayaan merupakan bagian yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan bahwa individu itu lahir belum berbudaya, baik dalam hal kebiasaan, cita-cita, sikap, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Semuanya itu dapat diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan budaya, keluarga, masyarakat sekitar dan tentu saja dengan sekolah.
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan karena dan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan. Sebagai contoh dalam penggunaan bahasa, setiap masyarakat dapat dikatakan mengajarkan kepada anak-anak untuk mengatakann sesuatu, kapan hal itu dapat dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan kepada siapa mengatakannya. Contoh lain, setiap masyarakat mempunyai persamaan dan perbedaan dalam berpakaian. Dalam kaitan dengan pakaian, anak harus mempelajari dari anggota masyarakat yang lain tentang cara menggunakan pakaian tertentu dan dalam peristiwa apa pakaian tertentu dapat dipakai. Dengan mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan kemudian menerapkan sebagai tingkah lakunya sendiri menjadikan anak sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, anak-anak harus diajarkan pola-pola tingkah laku yang sesua dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Dengan kata lain, fungsi pokok setiap sistem pendidikan adalah untuk mengajarkan anak-anak tentang pola-pola tingkah laku yang esensial tersebut.


Salah satu upaya penyesuaian pendidikan jalur sekolah dengan keragaman latar belakang sosial budaya di Indonesia adalah dengan memberlakukan muatan lokal di dalam kurikulum sekolah, utamanya di Sekolah Dasar (SD). Kebijakan ini bukan hal baru, karena gagasannya telah diberlakukan sejak dulu, umpamanya dengan pengajaran bahasa daerah dan atau penggunaan bahasa daerah di dalam proses belajar mengajar. Keragaman sosial budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara dan tata krama pergaulan, kesenian, bahasa dan sastra daerah, maupun kemahiran dan keterampilan yang tumbuh dan terpelihara di suatu daerah tertentu.
Kebudayaan pada dasarnya merupakan pola kelakuan yang secara umum terdapat dalam satu masyarakat. Seluruh nilai yang telah disepakati masyarakat dapat pula disebut kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang diwujudkan dalam tiga hal:
a.  Ide, konsep, gagasan, nilai, norma dan peraturan. Wujud kebudayaan ini bersifat abstrak dan adanya dalam alam pikiran manusia dan warga masyarakat di tempat kebudayaan itu berada.
b. Kegiatan yaitu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat. Tindakan ini disebut sistem sosial. Dalam sistem sosial, aktivitas manusia sifatnya konkret, bisa dilihat dan diobservasi. Sistem sosial dalam bentuk aktivitas manusia merupakan refleksi dari ide, konsep, gagasan, nilai, norma dan peraturan yang telah dimilikinya.
c.  Benda dari hasil karya manusia. Seluruh fisik perbuatan atau hasil karya manusia di masyarakat. Oleh karena itu, wujud kebudayaan ini disebut kebudayaan fisik. Kebudayaan ini adalah produk dari wujud kebudayaan ide (point a) dan tindakan (point b).

Bagaimana tanggapan dan sikap anda jika terjadi pertentangan antar sektor sosial budaya (etnis) mengingat keberagaman penduduk di Indonesia

4 comments:

  1. pertentangan antar sektor sosial budaya (eknis) mengingat keberagaman penduduk indonesia pasti ada. seperti suku anak dalam. suku anak dalam sangat sulit menerima masyarakat luar apalagi dalam hal pendidikan. karena mereka lebih mempertahankan kebudayaan mereka. sangat sulit membuat mereka mau memahami dan menerima perkembangan zaman terutama soal pendidikan. ini dikarenakan ikatan antar mereka yang kuat dan kurang pandainya masyarakat luar menjelaskan tentang pendidikan. jika ditanya bagaimana sikap saya,untuk saat ini saya sendiri belum tahu harus berbuat apa. karna jika ingin bertindak secara langsung seperti mendekati dan memberi pemahaman langsung kepada mereka saya sendiri merasa belum sanggup. tapi saya berharap akan ada dan semakin banyak pihak-pihak dan dari pemerintah yang mau terus berjuang memberikan pemahaman dan membelajarkan suku anak dalam sehingga nantinya tidak akan ada lagi perbedaan dalam hal pendidikan antara satu suku dengan suku lain atau antara satu suku dengan masyarakat luar.

    ReplyDelete
  2. Konflik merupakan hal atau masalah yang lazim atau biasa terjadi di lingkungan masyarakat. Dimana perbedaan menjadi latar belakang yang mendasar dalam setiap konflik perang antar suku di Indonesia
    Salah satu contoh dari konflik yang sempat menarik perhatian adalah perang suku antara suku Dayak dan Madura. Peperangan antara Suku Dayak dan Madura menimbulkan sebuah pergeseran moral tentang bagaimana seharusnya saling menghargai perbedaanPemenggalan terhadap kepala manusia saat itu seolah menjadi bukti bahwa kebencian telah benar-benar mengerikan. Penyebab terjadinya perang kedua suku ini yaitu karena perbedaan budaya antara Suku Dayak dan Suku Madura, perilaku yang tidak menyenangkan, pinjam meminjam tanah dan ikrar perdamaian yang dilanggar
    Contoh yang lain adalah suku anak dalam yang belum mau mengikuti perkembangan zaman baik dalam hal kehidupan bermasyarakat dan dalam hal pendidikan. mereka masih berkeyakinan untuk tinggal di hutan tempat tinggal asalnya karena mereka meyakini bahwa lebih baik tinggal disana dari pada harus berpindah dan mengikuti perkembangan zaman modern.
    Dengan adanya keberagaman dan suku diindonesia seharusnya tidak menjadi penghalang dalam hal bermasyarakat.justru itu bisa dijadikan sarana untuk saling berkomunikasi dan bertukar pikiran.

    ReplyDelete
  3. Cara mencegah terjadinya konflik, antara lain dengan saling menghormati antar masyarakat, apabila hal ini terwujud maka setiap orang akan memiliki perasaan yang sama, bahagia karena dihormati sehingga memunculkan rasa menghormati oranglain. Selanjutnya dengan menjaga kerukunan masyarakat, walaupun mungkin hal ini sulit mengingat masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku yang memiliki ciri watak berbeda-beda namun akan menjadi mudah apabila sudah terbentuk suatu sikap untuk saling menjaga dan mempertahankan kerukunan baik antar umat beragama, antar etnis, serta antar suku bangsa yang kuat dari dalam diri masyarakat.

    Serta dengan berpikir sebelum bertindak, ini penting karena pasti ada akibat dari sebab. Setiap apa yang kita lakukan pasti menimbulkan suatu akibat, apalagi akibat dari konflik yang negatif, yaitu korban berjatuhan, hilangnya harta, maka harus selalu memikirkan matang-matang setiap rencana.
    Sebagai guru harus menumbuhkan karakter nasionalisme dan toleransi pd siswa agar timbul harmonisasi dlm pembelajaran.

    ReplyDelete
  4. Konflik etnik yang terjadi sangat merugikan bangsa Indonesia, karena dapat memecahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Untuk itu dibutuhkan solusi agar masalah tersebut dapat dikendalikan. Hal-hal yang dapat dilakukan :
    1. Sosialisasi
    Sosialisasi dapat dilaksanakan melalui konsep proses sosial, yaitu hubungan antar individu, antar kelompok atau individu dengan kelompok yang menimbulkan bentuk hubungan tersebut. Dari hubungan ini diharapkan masyarakat dapat saling mengenal, semakin akrab, lebih mudah bergaul, lebih percaya kepada pihak lain, dan akhirnya dapat bekerja sama dan bersinergi.
    2. Membangun Budaya Toleransi
    Toleransi adalah kemampuan untuk menerima dan menghargai adanya perbedaan. Kadar toleransi bersumber dari adanya nilai empati yang sejak awal sudah ada di dalam hati setiap manusia. Empati merupakan kemampuan hati untuk ikut bergembira ataupun berduka dengan kegembiraan dan kedukaan orang lain. Semakin tinggi kadar empati seseorang, semakin tinggi pula kemampuan orang itu membangun nilai toleransi.
    3. Pendidikan budaya nasional
    Pendidikan budaya nasional bertujuan membuat orang berbudaya dan beradap. Pendidikan ini adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial, dimana masyarakat dapat mengenal budaya-budaya bangsa yang beraneka ragam. Sehingga melalui pendidikan ini masyarakat terkhusus generasi muda dapat mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia. Semakin baik tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin mudah baginya menerima perbedaan-perbedaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat.

    4. Membina solidaritas dikalangan generasi muda
    Generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan bangsa dengan meningkatkan solidaritas diantara masyarakat. Peran penting dari generasi muda adalah kemampuannya menciptakan perubahan, terlebih-lebih perubahan yang menyangkut masalah-masalah sosial seperti menciptakan solidaritas di kalangan generasi muda untuk mengurangi prasangka yang dapat mengakibatkan konflik etnik. Untuk menciptakan generesi muda yang memiliki sikap solidaritas maka generasi muda harus mendapatkan pendidikan multikultural yaitu, proses penanaman cara hidup untuk menghormati secara tulus, dan toleran dalam keberagaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat etnik. Dengan mendapatkan pendidikan multikultural maka generasi muda diharapkan mampu menjadi penengah diantara masyarakat dalam mengahadapi konflik-konflik yang berbau suku antar golongan ras dan agama.

    ReplyDelete

 

Twitter Updates